Temukan koleksi jurnal penelitian ilmiah mahasiswa UKIP
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekuatan tarik dan defleksi tulang kerbau. Kegiatan penelitian ini dilakukan pada Lab Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus Makassar. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah pengujian tarik dan defleksi untuk mengetahui kekuatan tarik tulang kerbau dan kelendutan tulang kerbau. Berdasarkan penelitian dan analisa data yang telah dilakukan, maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut. Pengasapan berpengaruh terhadap kekuatan tarik tulang kerbau dimana kekuatan tarik tulang kerbau tanpa pengasapan (𝜎) = 58,50 MPa, sedangkan kekuatan tarik tulang kerbau dengan pengasapan 5 hari sebesar (𝜎) = 75,94 MPa. Defleksi tulang kerbau yang tanpa di asapi dan yang di asapi untuk beban yang sama menghasilkan defleksi yang berbeda, untuk beban 5 N defleksi, tulang kerbau tanpa pengasapan (𝑌) = 0,196 mm sedangkan yang dengan pengasapan (𝑌) = 0,144 mm. Beban berbanding lurus dengan defleksi, semakain besar beban semakin besar defleksi. Kata kunci : Tulang Kerbau, pengujian Tarik, Pengujian Defleksi
Menurut definisi Doutche Industrie Normen (DIN), las adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam atau paduan logam yang dilakukan dalam keadaan dilumasi atau cair, tujuan ini pada dasarnya dimiliki oleh semua teknik pengelasan baja. Standar spesimen yang digunakan adalah standar ASTM E8 (American Test and Material Association). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hasil pengelasan SMAW dan GTAW pada mild steel terhadap kekuatan tarik. Penelitian ini menggunakan bahan baja karbon rendah (mild steel), bahan dilas dengan menggunakan pengelasan SMAW dan GTAW. Jenis elektroda yang digunakan E7016 dan ER70S-6 kampuh v dengan sudut 60o.Pada hasil pengujian tarik, nilai tertinggi yang didapatkan pada tegangan tarik maksimum dari hasil pengelasan SMAW adalah Arus 105 Ampere yaitu 46,06 kgf/mm2 sedangkan pada pengelasan GTAW nilai tertinggi yang didapatkan pada tegangan tarik maksimum adalah pada Arus 105 Ampere yaitu 50,04 kgf/mm2. Penyebab pengelasan GTAW lebih kuat adalah karena pengelasan GTAW menggunakan gas argon sebagai pelindung cairan las sehingga tidak terkontaminasi oleh udara luar serta membuat cairan las lebih padat. Kata kunci : Mild steel, arus, pengelasan, kekuatan tarik, SMAW dan GTAW.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan tarik dan bending pelat stainless steel akibat pengaruh metode pengelasan MIG. Penelitian ini menggunakan material pelat stainless stell dengan ketebalan 2,35 mm dan menggunakan metode pengelasan adalah MIG dengan gas CO2, Tekanan gas divariasikan pada tekanan 30 bar, 35 bar dan 40 bar. Arus pengelasan yang digunakan adalah konstan pada 60 ampere. Spesimen uji tarik menggunakan standar ASTM E8 dan uji bending dengan standar ASTM E23-02 Pengujian dan pengambilan data dilakukan pada Laboratorium Metallurgi Fisik Program Studi Teknik Mesin UKI Paulus Makassar.Pada hasil penelitian dan proses perhitungan diketahui bahwa metode pengelasan MIG berpengeruh terhadap kekuatan tarik material, semakin besar tekanan gas yang diberikan maka semakin besar pula nilai kekuatan tarik yang didapatkan pada tekanan gas 30 bar diperoleh 286,45 MPa, pada tekanan gas 35 bar 407,98 MPa, pada tekanan gas 40 bar 463,09 MPa, sedangkan pada spesimen normal tanpa pengelasan diperoleh nilai kekuatan tarik sebesar 714,68 MPa, Metode pengelasan MIG berpengaruh terhadap kekuatan bending material, semakin besar tekanan gas yang diberikan maka semakin besar pula nilai kekuatan bending yang didapatkan. Pada tekanan gas 30 bar diperoleh 355,93 MPa, pada tekanan gas 35 bar 576,42 MPa, dan pada tekanan gas 40 bar diketahui 779,32 MPa, sedangkan pada spesimen normal tanpa pengelasan diperoleh nilai kekuatan bending sebesar 632,00 MPa. Kata kunci: Stainless Stell, MIG, Pengelasan, Pengujian Tarik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan tarik geser baja karbon terhadap metode pengelasan lap joint. Tingkat efisiensi sambungan ini tergolong rendah sehingga jarang sekali digunakan untuk pelaksanaan penyambungan konstruksi utama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode SMAW. Las SMAW adalah sebuah proses penyambungan logam yang menggunakan energi panas untuk mencairkan benda kerja dan elektroda. Energi panas pada proses pengelasan SMAW dihasilkan karena adanya lompatan ion listrik yang terjadi pada ujung elektroda dan permukaan material. Untuk mencapai tujuan penelitian ini, maka akan dilakukan pembuatan spesimen dengan objek baja karbon sedang, sesuai standar ASTM E 8M-01 yang nantinya akan di uji tarik. Pengujian tarik dilakukan untuk mengetahui besarnya kekuatan tarik dari spesimen yang di uji. Pengujian dilakukan dengan mesin uji “Universal Testing Machine”. Uji tarik yang menghasilkan nilai rata-rata tegangan terbesar yaitu sejumlah 49827 newton pada gaya geser maksimum pada plat yang diperoleh dari pengelasan dengan kekuatan arus 90 ampere. Sedangkan uji tarik yang menghasilkan nilai rata-rata terendah yaitu 29050 newton pada gaya geser maksimum pada lasan yang diperoleh dari pengelasan dengan kekuatan arus 70 ampere. Kata Kunci : uji tarik, Lap Joint, SMAW.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara perencanaan pembuatan kincir air area pertanian didesa lembang mesakada kabupaten pinrang dan menentukan jenis kincir yang cocok dengan kondisi sumber air. Penelitian perencenaan kincir air ini menggunakan bola pimpong dan meter. Manfaat penelitian ini sebagai bahan referensi untuk penelitian lebih lanjut mengenai pengembangan perencanaan kincir air. Metode yang digunakan metode survei yaitu observasi atau melihat langsung lokasi penelitian, metode pengukuran untuk pengumpulan data, dan metode internal yaitu mengumpulkan informasi melalui buku-buku atau referensi yang didapatkan. Hasil dari perhitungan perencanaan kincir air adalah sebagai berikut: Luas penampang = 3,18 m2, kecepatan aliran = 1,2345 m/s, debit = 3,92 m3/s, daya air (Pair) = 20381 watt, volume air = 12700 m3, massa air = 12.700 kg, energi kinetik = 9676,76 joule, luas penampang basah = 0,075 m2, keliling basah = 0,8 m, jari-jari hidrolik = 0,093 m, jari-jari kincir = 1,57 m, lebar sudu = 0,53 m, jarak sudu = 0,044 m, kecepatan keliling kincir = 0,4938 m/s, putaran kincir = 3 rpm, gaya fluida = 4846 N, torsi = 7608 Nm, daya kincir (Pkincir) = 14333 watt, efisiensi kincir = 70 %. Kata Kunci : Perencanaan Kincir air undershot, Energi Kincir, Efisiensi.
Perkembangan dunia industri yang semakin meningkat saat ini menyebabkan kebutuhan material makin meningkat terutama untuk sebuah produk. Penggunaan material logam pada berbagai produk semakin berkurang. Hal tersebut diakibatkan oleh beratnya komponen yang terbuat dari logam, proses pembentuknya yang relative sulit, dapat mengalami korosi dan biaya produksi mahal, oleh karena itu banyak dikembangkan material lain yang mempunyai sifat yang sesuai dengan karakteristik material logam yang diinginkan. Salah satu material yang banyak dikembangkan saat ini adalah komposit.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh perlakuan sinar ultraviolet terhadap kekasaran permukaan serat imperata cylindrica dan untuk mengetahui pengaruh perlakuan sinar ultraviolet terhadap kekuatan tarik pada serat imperata cylindrica.Data yang di hasilkan dari pengujian tarik yang diberikan perlakuan sinar ultraviolet dengan waktu yang digunakan 20 , 40, 60, 80, dan 100 jam.penyinaran sinar ultraviolet yang bervariasi, dari data tersebut dapat dilakukan analisa perhitungan tegangan tarik yang dapat terjadi pada serat imperata cylindrical.Adanya pengaruh perlakuan sinar ultraviolet pada kekasaran serat imperata cylindrica yang diberi perlakuan penyinaran 20 jam, 40 jam, 60 jam, 80 jam, dan 100 jam, dimana dari hasil pengujian kekasaran tersebut P80 jam memiliki kekasaran yang paling besar yaitu Ra 1,789 µm, Rq 2,428 µm, dan Rz 10,271 µm dan hasil kekasaran yang kecil yaitu P20 jam memiliki nilai Ra 1,068 µm, Rq 1,308 µm, dan Rz 6,062 µm. Kata Kunci : Komposit, Serat Imperata Cylindrica, Sinar Ultraviolet , Uji Tarik, Uji Kekasaran.
Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui kekuatan tarik serat tunggal daun nanas raja akibat pengaruh pengasapan tertutup, Untuk mengetahui kekuatan bending material komposit akibat penguat serat daun nanas raja, Untuk mengetahui kekuatan impak material komposit akibat penguat serat daun nanas raja. Penelitian ini menggunakan bahan Serat penguat utama yang digunakan adalah daun tanaman nanas raja, Perbandingan resin dan katalis dengan daun tanaman daun nanas raja menggunakan fraksi massa, Perlakuan pengasapan tertutup dengan variasi waktu (1,2,3 dan 4) jam, Pengujian yang dilakukan adalah uji serat tunggal, uji bending dan uji impak. Pada hasil Pengasapan tertutup berpengaruh terhadap kekuatan tarik serat tunggal nanas raja, kekuatan tarik tanpa pengasapan (𝜎) = 256,31 MPa dan kekuatan tarik setelah pengasapan pada pengasapan 3 jam sebesar (𝜎) = 681,93 MPa, Serat nanas raja dengan P3J sebagai penguat berpengaruh terhadap kekuatan bending material komposit, kekuatan bending tanpa penguat (𝑆) = 0,095 MPa. Dari kekuatan bending tertinggi diperoleh pada perbandingan 10% dengan nilai (𝑆) = 226,66 MPa, Serat nanas raja sebagai penguat berpengaruh terhadap kekuatan impak material komposit kekuatan impak tanpa serat (HI) = 11,734 Joule/mm2, dari kekuatan impak tertinggi diperoleh pada perbandingan 10 : 90% (HI) = 11,737 Joule/mm2. Kata kunci: komposit, serat nanas raja
Flux Cored Arc Welding (FCAW) adalah salah satu las listrik yang banyak digunakan di dunia industri karena proses pengelasannya yang cukup cepat. FCAW jenis las listrik yang memasok filler kawat las secara mekanis terus ke dalam busur listrik yang terbentuk diantara ujung filler kawat las dan logam induk. Pengujian tarik untuk mengetahui sifat-sifat mekanis dari material baja paduan rendah sebagai material uji dalam penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kuat arus terhadap kekuatan tarik baja karbon hasil pengelasan FCAW dan seberapa kuat kekuatan tarik baja karbon hasil pengelasan FCAW. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan januari-februari 2024 di Laboratorium Fakultas Teknik Program Studi Teknik Mesin Politeknik Negeri Ujung Pandang dan Laboratorium Metalurgi Fisik Fakultas Teknik Program Studi Teknik Mesin Universitas Kristen Indonesia Paulus.. Proses pengambilan data dilakukan secara eksperimental dengan mengoperasikan alat secara langsung dan mencatat data yang diperoleh. Data kemudian diolah dan diperoleh hasil. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh kekuatan tarik tertinggi pada plat baja St 34 dengan ketebalan 4 mm terdapat pada pengelasan 100 Ampere dengan nilai rata-ratanya 358,85 kgf/mm2 sedangkan nilai kekuatan tarik maksimum terendah adalah pengelasan arus 80 ampere yaitu 35,42 kgf/mm2 . Kata kunci: Kuat Arus, Kekuatan Tarik, Pengelasan FCAW
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh arus hasil pengelasan SMAW pada medium steel terhadap kekuatan tarik dan impak. Penelitian ini menggunakan bahan baja karbon sedang (medium steel), bahan dilas dengan menggunakan pengelasan SMAW Jenis elektroda yang digunakan NSN-308 kampuh v dengan sudut 45o. Metode pengujian yang saya gunakan yaitu metode pengujian tarik dengan standar ASTM A370 dan pada pengujian impak saya menggunakan metode pengujian charpy. Pada hasil pengujian tarik, nilai tertinggi yang didapatkan pada tegangan tarik maksimum dari hasil pengelasan SMAW adalah arus 80 Ampere yaitu dengan nilai 471 MPa, dan tegangan tarik maksimum terendah terdapat pada arus 60 Ampere dengan nilai 466 MPa, kemudian untuk nilai tertinggi pada tegangan tarik patah terdapat pada arus 80 Ampere dengan nilai 378,5 MPa, dan tegangan tarik patah terendah terdapat pada arus 60 Ampere yaitu dengan nilai 375,9 MPa. Pada hasil pengujian impak, didapatkan hasil pengujian dengan nilai harga impak tertinggi pada arus 80 Ampere yaitu dengan nilai 0,25 jole/mm2, dan nilai harga impak terendah terdapat pada arus 60 Ampere yaitu dengan nilai 0,15 jole/mm2 Maka dapat disimpulkan bahwa semakin besar arus pengelasan yang digunakan maka semakin kuat dan bagus pula hasil pengelasan yang akan di hasilkan pada spesimen yang di las. Kata kunci : Medium steel, pengelasan, kekuatan tarik, kekuatan impak, SMAW.